Siaran Media
11 Juni 2011
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, mengucapkan selamat kepada para pemenang penghargaan Australian Alumni Awards keempat yang diumumkan pada 11 Juni 2011 di Jakarta.
“Saya gembira merayakan penghargaan Australian Alumni Awards keempat, suatu kegiatan yang mengakui prestasi luar biasa oleh sekelompok warga Indonesia yang menonjol dalam bidang pilihan mereka. Ini merupakan pengalaman yang mengesankan bagi kami untuk menyaksikan begitu banyak warga Indonesia yang kembali dari studi mereka di Australia dan membuat sumbangsih yang signifikan bagi kemajuan Indonesia,” tutur Dubes Moriarty.
Para pemenang pada 2011, yang diputuskan oleh panel independen sesama alumni, adalah:
Australian Alumni Award for Excellence in Education (Keunggulan dalam Pendidikan): Dr. Muhammad Zuhdi
Australian Alumni Award for Research and Innovation (Penelitian dan Inovasi): Professor Endang Sukara
Australian Alumni Award for Sustainable Economic and Social Development (Pembangunan Berkelanjutan dan Ekonomi): Dr. Ahmad Agus Setiawan
Australian Alumni Award for Culture and the Arts (Budaya dan Seni): Ibu Kestity A. Pringgoharjono
Australian Alumni Award for Journalism and Media (Jurnalisme dan Media): Ibu Valerina Daniel
Australian Alumni Award for Excellence in National Defence (Keunggulan dalam Pertahanan Nasional): Marsdya TNI Eris Herryanto
Australian Alumni Award for Excellence in National Security (Keunggulan dalam Keamanan Nasional): Laksdya TNI Y. Didik Heru Purnomo
Australian Alumni Award for Entrepreneurship (Kewirausahaan): Ibu Ligwina Poerwo-Hananto
Australian Alumni Award for Business Leadership (Kepemimpinan Bisnis): Ibu Amalia Fahmi
Outstanding Young Alumni Award (Alumni Muda Yang Menonjol): Ibu Kamila Andini
Penghargaan Distinguished Alumni Award diberikan kepada Wakil Presiden Prof. Dr. Boediono dan Wakil Menteri Perdagangan Bapak Mahendra Siregar
Penghargaan Australian Alumni Awards mengakui sumbangsih terhadap kemajuan Indonesia yang dilakukan oleh puluhan ribu warga Indonesia yang telah menuntut ilmu di sekolah, universitas dan akademi teknik Australia. Lebih dari 300 orang menghadiri acara tersebut dengan pertunjukan oleh Nengah & Nanda.
Kamis, Juni 30, 2011
Penghargaan buat Pencetus "Jalan Sesama"
Indra | Tri Wahono | Minggu, 12 Juni 2011 | 08:29 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Muhammad Zuhdi berhasil meraih penghargaan dari Pemerintah Australia dalam Australian Alumni Award for Excellence in Education 2011. Ia telah bertahun-tahun menceburkan diri di dunia pendidikan, baik sebagai dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah maaupun sebagai praktisi pendidikan anak usia dini dengan memproduksi film Jalan Sesama (Sesame Street versi Indonesia).
Kepada Kompas.com, pria ramah ini bercerita tentang pengalamannya menghadapi tantangan ketika memproduksi film tersebut. "Saya berkecimpung di dua pendidikan yang secara jenjang memiliki perbedaan. Pertama saya adalah dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, saya mengajar para calon guru. Selain itu, saya juga berkecimpung di dunia PAUD (pendidikan anak usia dini), saya terlibat dalam produksi film Jalan Sesama sejak tahun 2006. Tugas saya dan tim (team education and research) adalah meramu dan merumuskan pesan pendidikan yang akan dimasukkan ke dalam film tersebut. Jadi selain menghibur, ada pesan pendidikannya juga," tutur Zuhdi, sesaat setelah menerima Australian Alumni Award, Sabtu (11/6/2011) malam di Ballroom Hotel Four Season, Jakarta.
"Tantangan utamanya adalah bagaimana mengemas sebuah program yang menarik, tetapi juga mendidik," ujarnya. Atas segala upaya kerasnya, film Jalan Sesama berhasil meraih beberapa penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain Golden Award dari World Media Festival di Jerman pada tahun 2009 dan penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 dengan kategori Program yang Peduli terhadap Pendidikan Anak-anak.
"Yang menarik, ada penelitian yang dilakukan oleh Dr Dina Borzekowsky dari John Hopkins University, Amerika Serikat. Ia melakukan penelitian di beberapa daerah di Banten, mereka melihat impact dari film Jalan Sesama ini terhadap anak-anak dan terbukti cukup signifikan. Jadi materi yang diberikan melalui film ini cukup berpengaruh untuk anak-anak meskipun mereka tidak pergi ke TK. Mereka, anak-anak yang berasal dari golongan kurang mampu, dapat mengambil ilmu yang dibawa oleh film ini," ujarnya.
Meski begitu, Zuhdi mengakui banyak sekali kendala dalam memproduksi dan mengembangkan film Jalan Sesama. salah satunya adalah keterbatasan teknologi dan sumber daya. Itulah alasan yang mendorongnya terus berdiskusi dengan berbagai pihak demi memenuhi hasrat memproduksi film anak-anak yang sarat dengan muatan pendidikan dan potensi lokal.
"Memang kita masih kekurangan teknologi dan kepakaran, tidak banyak yang memproduksi film seperti ini. Karena itu, tidak ada salahnya kita membuka diri dengan mereka yang sudah berpengalaman karena Sesame Street sudah ada sejak tahun 1960-an. Film ini tidak hanya berhasil di Amerika saja, tetapi juga di banyak negara lain," katanya.
Jalan Sesama memang adaptasi dari Sesame Street. Dalam program tersebut, Sesame Street International bekerjasama dengan produser lokal untuk menciptakan program TV untuk anak-anak yang bernuansa lokal. Walaupun ilmunya dari sana, kontennya tetap disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak di Indonesia.
"Untuk ide cerita, terkadang kami berdiskusi juga dengan para pakar, dan semua penulis ceritanya adalah murni orang Indonesia. Kemudian pesan-pesan pendidikannya kami sesuaikan dengan kurikulum dan kami juga kerap mengundang pakar-pakar pendidikan, khususnya PAUD," ungkapnya.
JAKARTA, KOMPAS.com — Muhammad Zuhdi berhasil meraih penghargaan dari Pemerintah Australia dalam Australian Alumni Award for Excellence in Education 2011. Ia telah bertahun-tahun menceburkan diri di dunia pendidikan, baik sebagai dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah maaupun sebagai praktisi pendidikan anak usia dini dengan memproduksi film Jalan Sesama (Sesame Street versi Indonesia).
Kepada Kompas.com, pria ramah ini bercerita tentang pengalamannya menghadapi tantangan ketika memproduksi film tersebut. "Saya berkecimpung di dua pendidikan yang secara jenjang memiliki perbedaan. Pertama saya adalah dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, saya mengajar para calon guru. Selain itu, saya juga berkecimpung di dunia PAUD (pendidikan anak usia dini), saya terlibat dalam produksi film Jalan Sesama sejak tahun 2006. Tugas saya dan tim (team education and research) adalah meramu dan merumuskan pesan pendidikan yang akan dimasukkan ke dalam film tersebut. Jadi selain menghibur, ada pesan pendidikannya juga," tutur Zuhdi, sesaat setelah menerima Australian Alumni Award, Sabtu (11/6/2011) malam di Ballroom Hotel Four Season, Jakarta.
"Tantangan utamanya adalah bagaimana mengemas sebuah program yang menarik, tetapi juga mendidik," ujarnya. Atas segala upaya kerasnya, film Jalan Sesama berhasil meraih beberapa penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain Golden Award dari World Media Festival di Jerman pada tahun 2009 dan penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 dengan kategori Program yang Peduli terhadap Pendidikan Anak-anak.
"Yang menarik, ada penelitian yang dilakukan oleh Dr Dina Borzekowsky dari John Hopkins University, Amerika Serikat. Ia melakukan penelitian di beberapa daerah di Banten, mereka melihat impact dari film Jalan Sesama ini terhadap anak-anak dan terbukti cukup signifikan. Jadi materi yang diberikan melalui film ini cukup berpengaruh untuk anak-anak meskipun mereka tidak pergi ke TK. Mereka, anak-anak yang berasal dari golongan kurang mampu, dapat mengambil ilmu yang dibawa oleh film ini," ujarnya.
Meski begitu, Zuhdi mengakui banyak sekali kendala dalam memproduksi dan mengembangkan film Jalan Sesama. salah satunya adalah keterbatasan teknologi dan sumber daya. Itulah alasan yang mendorongnya terus berdiskusi dengan berbagai pihak demi memenuhi hasrat memproduksi film anak-anak yang sarat dengan muatan pendidikan dan potensi lokal.
"Memang kita masih kekurangan teknologi dan kepakaran, tidak banyak yang memproduksi film seperti ini. Karena itu, tidak ada salahnya kita membuka diri dengan mereka yang sudah berpengalaman karena Sesame Street sudah ada sejak tahun 1960-an. Film ini tidak hanya berhasil di Amerika saja, tetapi juga di banyak negara lain," katanya.
Jalan Sesama memang adaptasi dari Sesame Street. Dalam program tersebut, Sesame Street International bekerjasama dengan produser lokal untuk menciptakan program TV untuk anak-anak yang bernuansa lokal. Walaupun ilmunya dari sana, kontennya tetap disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak di Indonesia.
"Untuk ide cerita, terkadang kami berdiskusi juga dengan para pakar, dan semua penulis ceritanya adalah murni orang Indonesia. Kemudian pesan-pesan pendidikannya kami sesuaikan dengan kurikulum dan kami juga kerap mengundang pakar-pakar pendidikan, khususnya PAUD," ungkapnya.
Zuhdi Raih Penghargaan Excellence in Education
Australian Alumni Award 2011
Indra | A. Wisnubrata | Minggu, 12 Juni 2011 | 00:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Muhammad Zuhdi, mendapatkan penghargaan Excellence in Education dalam acara Australian Alumni Award 2011.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, Sabtu (11/6/2011) malam, di Ballroom Hotel Four Seasons, Jakarta. "Ini suatu kegiatan yang mengakui prestasi luar biasa oleh sekelompok warga Indonesia yang menonjol dalam bidang pilihan mereka. Merupakan pengalaman yang mengesankan bagi kami untuk menyaksikan begitu banyak warga Indonesia yang kembali dari studi mereka di Australia dan memberikan sumbangsih yang signifikan bagi kemajuan Indonesia," kata Greg saat memberikan sambutan.
Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Zuhdi mengaku sangat terkejut menerima penghargaan tersebut. Ia berharap, penghargaan yang diterimanya dapat membuat dirinya lebih tertantang untuk memberikan sumbangsih yang lebih signifikan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
"Tentu saya senang, tetapi lebih kepada surprise. Penghargaan ini merupakan tantangan, mudah-mudahan ke depan saya bisa berpikir lebih kreatif dan menawarkan sesuatu yang lebih produktif lagi," ujar pria yang juga berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan memproduksi film Jalan Sesama (Sesame Street versi Indonesia) ini.
Australian Alumni Award adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Australia atas sumbangan signifikan dari warga Indonesia yang telah menuntut ilmu di sekolah, universitas, dan akademi teknik Australia ketika mereka kembali ke Tanah Air. Semua nominasi dalam penghargaan ini sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat melalui www.ozmate.org dan pemenangnya diputuskan oleh panel independen sesama alumni yang akuntabel.
"Rasanya film itulah (Jalan Sesama) yang memberikan nilai lebih kepada saya. Dan, saya kira Pemerintah Australia sangat menghargai potensi lokal sehingga bukan lagi sekadar mendapatkan ilmu lalu ditelan mentah-mentah untuk diterapkan di sini, tapi bagaimana mempertimbangkan muatan lokal untuk disertakan dalam film ini. Mungkin itulah salah satu pertimbangan mereka (tim panelis) memilih saya sebagai penerima penghargaan ini," ujar Zuhdi.
Indra | A. Wisnubrata | Minggu, 12 Juni 2011 | 00:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Muhammad Zuhdi, mendapatkan penghargaan Excellence in Education dalam acara Australian Alumni Award 2011.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, Sabtu (11/6/2011) malam, di Ballroom Hotel Four Seasons, Jakarta. "Ini suatu kegiatan yang mengakui prestasi luar biasa oleh sekelompok warga Indonesia yang menonjol dalam bidang pilihan mereka. Merupakan pengalaman yang mengesankan bagi kami untuk menyaksikan begitu banyak warga Indonesia yang kembali dari studi mereka di Australia dan memberikan sumbangsih yang signifikan bagi kemajuan Indonesia," kata Greg saat memberikan sambutan.
Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Zuhdi mengaku sangat terkejut menerima penghargaan tersebut. Ia berharap, penghargaan yang diterimanya dapat membuat dirinya lebih tertantang untuk memberikan sumbangsih yang lebih signifikan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
"Tentu saya senang, tetapi lebih kepada surprise. Penghargaan ini merupakan tantangan, mudah-mudahan ke depan saya bisa berpikir lebih kreatif dan menawarkan sesuatu yang lebih produktif lagi," ujar pria yang juga berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan memproduksi film Jalan Sesama (Sesame Street versi Indonesia) ini.
Australian Alumni Award adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Australia atas sumbangan signifikan dari warga Indonesia yang telah menuntut ilmu di sekolah, universitas, dan akademi teknik Australia ketika mereka kembali ke Tanah Air. Semua nominasi dalam penghargaan ini sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat melalui www.ozmate.org dan pemenangnya diputuskan oleh panel independen sesama alumni yang akuntabel.
"Rasanya film itulah (Jalan Sesama) yang memberikan nilai lebih kepada saya. Dan, saya kira Pemerintah Australia sangat menghargai potensi lokal sehingga bukan lagi sekadar mendapatkan ilmu lalu ditelan mentah-mentah untuk diterapkan di sini, tapi bagaimana mempertimbangkan muatan lokal untuk disertakan dalam film ini. Mungkin itulah salah satu pertimbangan mereka (tim panelis) memilih saya sebagai penerima penghargaan ini," ujar Zuhdi.
Selasa, Juni 14, 2011
#Indonesia Jujur: Ny. Siami benar, tapi di mana kesalahan masyarakat?
Kasus yang menimpa Ibu Siami dan putranya Al membuka mata kita bahwa ada persoalan serius dengan dunia pendidikan kita, dan itu adalah cerminan masyarakat kita yang konon sedang sakit.
Al adalah putra Ibu Siami yang bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya. Menurut beberapa sumber, Al adalah seorang anak cerdas yang membanggakan orangtua dan gurunya. Pada saat Ujian Nasional beberapa waktu lalu, Al mendapatkan "tugas mulia" dari sekolahnya untuk menbantu teman-teman sekelasnya lulus ujian nasional. Tugasnya sederhana, cukup memberikan jawaban atas soal-soal UN kepada teman-temannya di saat ujian, maka diyakini mereka akan lulus, karena para guru yakin bahwa Al pasti mampu menjawab soal-soal ujian dengan baik.
Ujian telah selesai, dan Al telah melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi ia terngiang-ngiang dengan nasehat ibunya untuk berlaku jujur. Dia sadar bahwa memberikan jawaban ke teman-teman saat ujian adalah perilaku dan tidak jujur. I adihantui rasa bersalah telah melakukan hal yang dilarang oleh sang ibu. Maka ia pun mengadu kepada ibunya, bahwa ia telah diminta untuk berlaku tidak jujur, dan ia melakukannya.
Sebagai orang tua yang tahu akan pentingnya integritas diri, jiwa Ny. Siami terusik. Ia tidak rela sekolah yang mestinya menjadi benteng kejujuran justru menjadi tempat penyemaian benih-benih penghancur moral dengan praktek yang nyata. Ia pun melayangkan protes ke sekolah, bahkan lebih dari itu, ia juga mengadu ke dinas pendidikan. Hasilnya, dia menang. Dinas pendidikan langsung mengambil tindakan kepada Kepala sekolah dan guru yang terlibat dalam kasus Al.
Ny. Siami boleh merasa bangga bahwa pihak yang berwenang telah mendengar suara hatinya, tetapi ia tentu tidak menyangkan bahwa perbuatannya justru dianggap merugikan oleh sebagian masyarakat di mana dia tinggal. Mayoritas masyarakat justru menganggap apa yang dilakukan Ny. Siami adalah tindakan yang salah, karena hanya akan merugikan anak-anak mereka. Apalah jadinya jika kemudian ujian nasional harus diulang dan anak-anak mereka menjadi tidak lulus. Ny. Siami dianggap membuat keresahan di tengah-tengah masyarakat, karena akibat perbuatannya orangtua dan anak-anak yang ikut ujian nasional menjadi resah. Akibatnya ia diusir dari tempat tinggalnya...
Kenapa ini terjadi? Apakah masyarakat kita sudah mengabaikan nilai-nilai kejujuran dan tidak mementingkan lagi integritas diri?
Kita yang berada di luar kasus itu, mungkin secara mudah mengatakan bahwa Ny. Siami benar dan masyarakat salah. Ny. Siami telah memperjuangkan kejujuran dan berhasil menunjukkan bahwa kejujuran masih dihargai oleh birokrasi pendidikan. Sementara masyarakat yang mengukum Ny. Siami dan keluarganya adalah masyarakat yang tidak menghargai kejujuran.
Sesederhana itu kah? Benarkah masyarakat tersebut sudah tidak menghargai kejujuran? Saya yakin jawabannya tidak sesederhana itu. Mungkin kita akan melakukan hal yang sama jika berada di tengah-tengah masyarakat itu.
Saya melihat ada persoalan besar yang dialami masyarakat, sehingga mengabaikan pentingnya nilai-nilai kejujuran:
1. Tidak Percaya Sistem
Saya yakin jika masyarakat ditanya satu persatu, bahkan secara kolektif, pasti mereka meyakini bahwa kejujuran itu baik. Mungkin hati kecil mereka mengakui apa yang dilakukan Ny. Siami benar, tetapi persoalan yang mereka hadapi adalah anak-anak mereka HARUS lulus ujian nasional agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Memang pemerintah telah menjelaskan bahwa hasil ujian tidak menentukan kelulusan, tapi apakah mereka percaya?
Di sinilah masalahnya, masyarakat tidak percaya bahwa sistem berjalan dengan baik. Toh mereka tidak buta dan tuli ketika media masa cetak dan elektronik memberitakan berbagai kecurangan saat Ujian Nasional. Mereka bahkan menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa banyak sekolah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh sekolahnya Al, tapi tidak apa-apa, yang penting siswa lulus.
Kalau mereka harus melakukannya dengan jujur dan hasilnya anak-anak tidak lulus, sementara ada sekolah lain (ini asumsi saja) yang melakukan pelanggaran tetapi tidak dihukum, di mana letak keadilan? Maka mereka beranggapan bahwa hal yang dilakukan sekolah adalah lumrah, karena hal itu terjadi dan diberlakukan dibanyak tempat. Sama lumrahnya dengan memberi uang kepada polisi ketika mau ditilang atau memberi upeti kepada pejabat ketika mendapat proyek. Salah? iya. Tetapi toh harus dilakukan, dan masih terus berlangungsung, meskipun dinyatakan melanggar. Sebab kalau tidak begitu anak-anak yang jadi korban...
Singkatnya, masyarakat merasa sistem tidak berjalan dengan baik. Mereka yakin betul bahwa siswa-siswi yang dinyatakan lulus UN tidak seluruhnya layak lulus, karena sebagian "dibantu" sekolah dan guru. Kalau orang lain bisa ikut ujian dengan resiko ketidak lulusan "nol", maka anak mereka pun berhak untuk
Rusaknya sistem pendidikan ini disebabkan oleh perilaku oknum-oknum di masa lalu yang suka membocorkan soal ujian, memperdaya pengawas dari luar, dan menagabaikan sistem. dan mental-mental seperti itu, baik di sekolah maupun birokrasi tidak bisa hilang begitu saja. Akibatnya, meskipun sistem pengamanan soal ujian dan pelaksanaan ujian kian diperketat, masyarakat masih tidak yakin bahwa sistem berjalan. Buktinya, tanpa pengaduan Ny. Siami, sekolah tersebut tidak akan pernah dianggap salah. Bukankah itu menunjukkan bahwa sistemnya memang lemah. Jika begitu, tentu bisa dimengerti jika masrakat tidak percaya sistem.
2. Budaya Short-Cut atau Instan
Dampak dari industrialisasi, modernisasi dan kemajuan teknologi antara lain adalah terciptanya budaya baru masysrakat era teknologi. Segala sesuatu seringkali terjadi dengan sangat cepat. bahkan dalam komputer dikenal istilah short-cut, yaitu icon di desktop yang bisa langsung mengantarkan seseorang ke file atau folder yang diinginkan tanpa harus mencari dengan sulit.
Budaya serba cepat dan instan telah melahirkan generasi yang tidak menghargai proses. Seolah-olah semua taken for granted. Wisata kuliner yang saat ini menjadi tren baru, sering hanya menampilkan bentuk akhir dari sebuah makanan, tanpa memperhatikan proses panjang pembuatannya. Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan.
Sudah bukan hal yang baru jika kita mendengar ada orang yang membeli gelar, membayar orang lain mengerjakan skripsi, menggunakan joki ketika ujian masuk, dan memplagiat karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri. Semua ini terjadi di dunia pendidikan, dan semua ini menunjukkan bahwa banyak orang tidak lagi menghargai pendidikan sebegai sebuah proses, mereka hanya ingin hasil. Tidak mau lama-lama menunggu proses. Karena itu, jika ada sekolah yang bisa menawarkan program pendidikan berijazah, dengan cara yang singkat dan mudah, dijamin laku. Karena masyarakat tdiak peduli dengan proses, yang penting hasil.
3. Dis-orientasi Pendidikan
Ketika dikatakan Bahwa mereka berorientasi pada hasil, sebenarnya ada nilai positifnya. Ada kemungkinan hasil itu adalah kualitas lulusan. Sayangnya kenyatannya tidak demikian. Hasil pendidikan telah dipersempit maknanya menjadi ijazah dan transkrip nilai. Selama ijazah dan transkrip nilainya baik dan menguntungkan, banyak orang tidak peduli dengan kehampaan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Lembaga-lembaga pendidikan sebenarnya dilahirkan untuk melaksanakan proses pendidikan, yaitu proses yang mengashilkan individu-individu yang berkualitas. ketika definisi individu yang berkualitas disimbolkan dengan ijazah dan transkrip, maka orientasi pun berubah, yaitu bagaimana memperoleh ijazah dan transkrip yang baik.
Perubahan orientasi pendidikan ini mengakibatkan banyak lembaga pendidikan yang melakukan malpraktik dan banyak orangtua yang memanfaatkan malpraktik itu. Persoalannya, malpraktik itu berlangsung di banyak tempat, sehingga seolah-olah itu adalah kawajaran.
4. Penyakit Standar-ganda
Banyak orang Indonesia yang menerapkan standar ganda dalam hidupnya. Jika da satu peraturan yang fair dan itu menguntungkan, maka ia akan ikut. tetapi jika peraturan yang fair itu merugikan dia maka dia akan mengelak.
Contoh kasus adalah perilaku pengguna jalan raya. Ketika lampu lalu lintas menyala hijau seharusnya seorang pengemudi menjalankan kendaraannya, ketika dia melihat dari arah lain ada yang melintas dan merugikan dia, tentu ia akan marah. Sebaliknya, jika ia berhadapan dengan lampu merah dan pengemudi di jalur lain belum bergerak maju, tentu dia akan melaju terus, tidak peduli bahwa lampu sudah merah.
Contoh lain adalah antrian. Jika seseorang sedang antri, tiba-tiba ada orang yang menyela, tentu dia akan marah. tetapi di kesempatan lain ketika dia punya peluang untuk menyela antrian, tentu dia akan melakukakannya.
Masih banyak contoh lain, di mana kita sering menerapkan standar ganda. Tidak terkecuali dengan kasus di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya. Saya yakin pasti para orangtua siswa amsih memiliki nurani untuk mengatakan bahwa kejujuran adalah kebaikan dan perbuatan curang adalah tidak baik. Tetapi, apa akibatnya jika kejujuran itu diterapkan? Kemungkinan besar mereka akan "rugi". So, kalau begitu, lebih baik kejujuran jangan diterapkan dulu. Tetapi bagaimana jika ada sekolah lain yang diberikan penghargaan karena jujur dan dihukum karena tidak jujur, mereka pasti mendukung.
Dengan kata lain, orang atau masayarakat yang memiliki stdanr ganda adalah orang yang berprinsip bahwa peraturan boleh/harus ditegakkan selama itu tidak merugikan dia. tetapi jika peraturan itu terbukti menganggu kepentingannya, maka peraturan itu akan diabaikan/dihilangkan/dianggap tidak ada.
So... gimana memperbaikinya?
Al adalah putra Ibu Siami yang bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya. Menurut beberapa sumber, Al adalah seorang anak cerdas yang membanggakan orangtua dan gurunya. Pada saat Ujian Nasional beberapa waktu lalu, Al mendapatkan "tugas mulia" dari sekolahnya untuk menbantu teman-teman sekelasnya lulus ujian nasional. Tugasnya sederhana, cukup memberikan jawaban atas soal-soal UN kepada teman-temannya di saat ujian, maka diyakini mereka akan lulus, karena para guru yakin bahwa Al pasti mampu menjawab soal-soal ujian dengan baik.
Ujian telah selesai, dan Al telah melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi ia terngiang-ngiang dengan nasehat ibunya untuk berlaku jujur. Dia sadar bahwa memberikan jawaban ke teman-teman saat ujian adalah perilaku dan tidak jujur. I adihantui rasa bersalah telah melakukan hal yang dilarang oleh sang ibu. Maka ia pun mengadu kepada ibunya, bahwa ia telah diminta untuk berlaku tidak jujur, dan ia melakukannya.
Sebagai orang tua yang tahu akan pentingnya integritas diri, jiwa Ny. Siami terusik. Ia tidak rela sekolah yang mestinya menjadi benteng kejujuran justru menjadi tempat penyemaian benih-benih penghancur moral dengan praktek yang nyata. Ia pun melayangkan protes ke sekolah, bahkan lebih dari itu, ia juga mengadu ke dinas pendidikan. Hasilnya, dia menang. Dinas pendidikan langsung mengambil tindakan kepada Kepala sekolah dan guru yang terlibat dalam kasus Al.
Ny. Siami boleh merasa bangga bahwa pihak yang berwenang telah mendengar suara hatinya, tetapi ia tentu tidak menyangkan bahwa perbuatannya justru dianggap merugikan oleh sebagian masyarakat di mana dia tinggal. Mayoritas masyarakat justru menganggap apa yang dilakukan Ny. Siami adalah tindakan yang salah, karena hanya akan merugikan anak-anak mereka. Apalah jadinya jika kemudian ujian nasional harus diulang dan anak-anak mereka menjadi tidak lulus. Ny. Siami dianggap membuat keresahan di tengah-tengah masyarakat, karena akibat perbuatannya orangtua dan anak-anak yang ikut ujian nasional menjadi resah. Akibatnya ia diusir dari tempat tinggalnya...
Kenapa ini terjadi? Apakah masyarakat kita sudah mengabaikan nilai-nilai kejujuran dan tidak mementingkan lagi integritas diri?
Kita yang berada di luar kasus itu, mungkin secara mudah mengatakan bahwa Ny. Siami benar dan masyarakat salah. Ny. Siami telah memperjuangkan kejujuran dan berhasil menunjukkan bahwa kejujuran masih dihargai oleh birokrasi pendidikan. Sementara masyarakat yang mengukum Ny. Siami dan keluarganya adalah masyarakat yang tidak menghargai kejujuran.
Sesederhana itu kah? Benarkah masyarakat tersebut sudah tidak menghargai kejujuran? Saya yakin jawabannya tidak sesederhana itu. Mungkin kita akan melakukan hal yang sama jika berada di tengah-tengah masyarakat itu.
Saya melihat ada persoalan besar yang dialami masyarakat, sehingga mengabaikan pentingnya nilai-nilai kejujuran:
1. Tidak Percaya Sistem
Saya yakin jika masyarakat ditanya satu persatu, bahkan secara kolektif, pasti mereka meyakini bahwa kejujuran itu baik. Mungkin hati kecil mereka mengakui apa yang dilakukan Ny. Siami benar, tetapi persoalan yang mereka hadapi adalah anak-anak mereka HARUS lulus ujian nasional agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Memang pemerintah telah menjelaskan bahwa hasil ujian tidak menentukan kelulusan, tapi apakah mereka percaya?
Di sinilah masalahnya, masyarakat tidak percaya bahwa sistem berjalan dengan baik. Toh mereka tidak buta dan tuli ketika media masa cetak dan elektronik memberitakan berbagai kecurangan saat Ujian Nasional. Mereka bahkan menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa banyak sekolah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh sekolahnya Al, tapi tidak apa-apa, yang penting siswa lulus.
Kalau mereka harus melakukannya dengan jujur dan hasilnya anak-anak tidak lulus, sementara ada sekolah lain (ini asumsi saja) yang melakukan pelanggaran tetapi tidak dihukum, di mana letak keadilan? Maka mereka beranggapan bahwa hal yang dilakukan sekolah adalah lumrah, karena hal itu terjadi dan diberlakukan dibanyak tempat. Sama lumrahnya dengan memberi uang kepada polisi ketika mau ditilang atau memberi upeti kepada pejabat ketika mendapat proyek. Salah? iya. Tetapi toh harus dilakukan, dan masih terus berlangungsung, meskipun dinyatakan melanggar. Sebab kalau tidak begitu anak-anak yang jadi korban...
Singkatnya, masyarakat merasa sistem tidak berjalan dengan baik. Mereka yakin betul bahwa siswa-siswi yang dinyatakan lulus UN tidak seluruhnya layak lulus, karena sebagian "dibantu" sekolah dan guru. Kalau orang lain bisa ikut ujian dengan resiko ketidak lulusan "nol", maka anak mereka pun berhak untuk
Rusaknya sistem pendidikan ini disebabkan oleh perilaku oknum-oknum di masa lalu yang suka membocorkan soal ujian, memperdaya pengawas dari luar, dan menagabaikan sistem. dan mental-mental seperti itu, baik di sekolah maupun birokrasi tidak bisa hilang begitu saja. Akibatnya, meskipun sistem pengamanan soal ujian dan pelaksanaan ujian kian diperketat, masyarakat masih tidak yakin bahwa sistem berjalan. Buktinya, tanpa pengaduan Ny. Siami, sekolah tersebut tidak akan pernah dianggap salah. Bukankah itu menunjukkan bahwa sistemnya memang lemah. Jika begitu, tentu bisa dimengerti jika masrakat tidak percaya sistem.
2. Budaya Short-Cut atau Instan
Dampak dari industrialisasi, modernisasi dan kemajuan teknologi antara lain adalah terciptanya budaya baru masysrakat era teknologi. Segala sesuatu seringkali terjadi dengan sangat cepat. bahkan dalam komputer dikenal istilah short-cut, yaitu icon di desktop yang bisa langsung mengantarkan seseorang ke file atau folder yang diinginkan tanpa harus mencari dengan sulit.
Budaya serba cepat dan instan telah melahirkan generasi yang tidak menghargai proses. Seolah-olah semua taken for granted. Wisata kuliner yang saat ini menjadi tren baru, sering hanya menampilkan bentuk akhir dari sebuah makanan, tanpa memperhatikan proses panjang pembuatannya. Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan.
Sudah bukan hal yang baru jika kita mendengar ada orang yang membeli gelar, membayar orang lain mengerjakan skripsi, menggunakan joki ketika ujian masuk, dan memplagiat karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri. Semua ini terjadi di dunia pendidikan, dan semua ini menunjukkan bahwa banyak orang tidak lagi menghargai pendidikan sebegai sebuah proses, mereka hanya ingin hasil. Tidak mau lama-lama menunggu proses. Karena itu, jika ada sekolah yang bisa menawarkan program pendidikan berijazah, dengan cara yang singkat dan mudah, dijamin laku. Karena masyarakat tdiak peduli dengan proses, yang penting hasil.
3. Dis-orientasi Pendidikan
Ketika dikatakan Bahwa mereka berorientasi pada hasil, sebenarnya ada nilai positifnya. Ada kemungkinan hasil itu adalah kualitas lulusan. Sayangnya kenyatannya tidak demikian. Hasil pendidikan telah dipersempit maknanya menjadi ijazah dan transkrip nilai. Selama ijazah dan transkrip nilainya baik dan menguntungkan, banyak orang tidak peduli dengan kehampaan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Lembaga-lembaga pendidikan sebenarnya dilahirkan untuk melaksanakan proses pendidikan, yaitu proses yang mengashilkan individu-individu yang berkualitas. ketika definisi individu yang berkualitas disimbolkan dengan ijazah dan transkrip, maka orientasi pun berubah, yaitu bagaimana memperoleh ijazah dan transkrip yang baik.
Perubahan orientasi pendidikan ini mengakibatkan banyak lembaga pendidikan yang melakukan malpraktik dan banyak orangtua yang memanfaatkan malpraktik itu. Persoalannya, malpraktik itu berlangsung di banyak tempat, sehingga seolah-olah itu adalah kawajaran.
4. Penyakit Standar-ganda
Banyak orang Indonesia yang menerapkan standar ganda dalam hidupnya. Jika da satu peraturan yang fair dan itu menguntungkan, maka ia akan ikut. tetapi jika peraturan yang fair itu merugikan dia maka dia akan mengelak.
Contoh kasus adalah perilaku pengguna jalan raya. Ketika lampu lalu lintas menyala hijau seharusnya seorang pengemudi menjalankan kendaraannya, ketika dia melihat dari arah lain ada yang melintas dan merugikan dia, tentu ia akan marah. Sebaliknya, jika ia berhadapan dengan lampu merah dan pengemudi di jalur lain belum bergerak maju, tentu dia akan melaju terus, tidak peduli bahwa lampu sudah merah.
Contoh lain adalah antrian. Jika seseorang sedang antri, tiba-tiba ada orang yang menyela, tentu dia akan marah. tetapi di kesempatan lain ketika dia punya peluang untuk menyela antrian, tentu dia akan melakukakannya.
Masih banyak contoh lain, di mana kita sering menerapkan standar ganda. Tidak terkecuali dengan kasus di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya. Saya yakin pasti para orangtua siswa amsih memiliki nurani untuk mengatakan bahwa kejujuran adalah kebaikan dan perbuatan curang adalah tidak baik. Tetapi, apa akibatnya jika kejujuran itu diterapkan? Kemungkinan besar mereka akan "rugi". So, kalau begitu, lebih baik kejujuran jangan diterapkan dulu. Tetapi bagaimana jika ada sekolah lain yang diberikan penghargaan karena jujur dan dihukum karena tidak jujur, mereka pasti mendukung.
Dengan kata lain, orang atau masayarakat yang memiliki stdanr ganda adalah orang yang berprinsip bahwa peraturan boleh/harus ditegakkan selama itu tidak merugikan dia. tetapi jika peraturan itu terbukti menganggu kepentingannya, maka peraturan itu akan diabaikan/dihilangkan/dianggap tidak ada.
So... gimana memperbaikinya?
Kamis, Desember 30, 2010
Indonesia Sesame Street 'makes kids smarter'
Updated December 28, 2010 21:19:32
There are about 20 countries that have their own version of the classic American children's show, Sesame Street, and Indonesia's version, Jalan Sesama, has had a remarkable first two years. A recent study has suggested that children who watch Jalan Sesama have more advanced educational skills and social awareness than others.
Presenter: Sajithra Nithi
Speakers: Dina Borzekowski, associate professor, health communication, Johns Hopkins University, Baltimore, United States, and lead author of the 'Jalan Sesama' study; Dr Muhammad Zuhdi, director, department for education, research and outreach, Jalan Sesama
Listen: Windows Media
[Sound of Sesame Street's US theme song]
NITHI: Sesame Street has been a favourite television programme of children for more than 40 years.
And since 2008 Indonesia has had its own version of the show called Jalan Sesama.
[Sound of Jalan Sesama theme song]
NITHI: Jalan Sesama means 'street for all' in Indonesian.
American researchers recently looked into the impacts of the programme on young children over a course of 14 weeks.
BORZEKOWSKI: Kids in Indonesia watch a huge amount of television. So one of the interesting things that we were trying to get at was 'Does this show have any sort of differential impact on the children compared to some of the other shows that they were watching?'
NITHI: That's Dina Borzekowski, the study's lead author and associate professor in health communication at the Johns Hopkins University.
One hundred and sixty children aged between 3 and 6 years were divided in to three groups for the study.
The first was a control group, which watched an assortment of television programmes. The second group was shown an episode of Jalan Sesama once a week. And the third group watched the show four times a week.
The children were all questioned on their skills, knowledge, and beliefs before the study and at the end of the 14 weeks.
Lead researcher Professor Borzekowski says the biggest improvements were seen in the group that received the highest exposure.
BORZEKOWSKI: What we saw was that watching Jalan Sesama above and beyond other programmes that they see had a significant impact on their scores for literacy, numeracy, for social development, cultural awareness, and for health and safety issues.
NITHI: Traffic safety was one of the issues the children were questioned on.
BORZEKOWSKI: Kids in Indonesia are at great risk from traffic issues, the majority of kids don't wear seat belts, they don't wear helmets when they're on motorcycles with their parents, and following exposure to the show, kids were much more aware about wearing helmets when riding on a motorcycle and they knew about the stripes for crosswalks, so those were nice outcomes.
NITHI: Dr Muhammad Zuhdi is the director of education, research and outreach for Jalan Sesama.
He explains why the show's grown to be popular.
ZUHDI: First of all, it's created for a young audience and we have very few shows targeted to a young audience. Secondly, we produce this programme based on Indonesian characters. We use Indonesian actors, Indonesian talents, the stories are written in Indonesia by Indonesians and the settings are all Indonesia. So it's close to the audience.
NITHI: This year saw the occasional appearance of the classic Sesame Street character, Elmo. But for the most part, the stars of Jalan Sesama are muppets tailored to an Indonesian audience - like Jabrik, a creative white rhinoceros, and Tantan, an environmentally conscious orangutan.
And then there are also characters like Agent 123, who teaches basic numbers, and Gatot Kata, who helps with words and pronunciation.
[Sound from scene from Jalan Sesama in Indonesian]
NITHI: In addition to the show's puppets are human characters like the storyteller, Pak Dalang, and Dr Susan.
Jalan Sesama continues to air in Indonesia, but there are concerns about access.
Dr Muhammad Zudhi says [the show's producers] are now working on an outreach programme, providing children in low access areas with educational material and toys.
ZUHDI: Our show is educative enough but we know that only limited children can watch. So we initiated this outreach programme to let more children learn with Jalan Sesama.
NITHI: While the study focused on Indonesia, several other countries, including India, Egypt, Tanzania and Brazil, have their own local versions of Sesame Street.
And the original American version is still broadcast around the world to an audience of millions of children.
There are about 20 countries that have their own version of the classic American children's show, Sesame Street, and Indonesia's version, Jalan Sesama, has had a remarkable first two years. A recent study has suggested that children who watch Jalan Sesama have more advanced educational skills and social awareness than others.
Presenter: Sajithra Nithi
Speakers: Dina Borzekowski, associate professor, health communication, Johns Hopkins University, Baltimore, United States, and lead author of the 'Jalan Sesama' study; Dr Muhammad Zuhdi, director, department for education, research and outreach, Jalan Sesama
Listen: Windows Media
[Sound of Sesame Street's US theme song]
NITHI: Sesame Street has been a favourite television programme of children for more than 40 years.
And since 2008 Indonesia has had its own version of the show called Jalan Sesama.
[Sound of Jalan Sesama theme song]
NITHI: Jalan Sesama means 'street for all' in Indonesian.
American researchers recently looked into the impacts of the programme on young children over a course of 14 weeks.
BORZEKOWSKI: Kids in Indonesia watch a huge amount of television. So one of the interesting things that we were trying to get at was 'Does this show have any sort of differential impact on the children compared to some of the other shows that they were watching?'
NITHI: That's Dina Borzekowski, the study's lead author and associate professor in health communication at the Johns Hopkins University.
One hundred and sixty children aged between 3 and 6 years were divided in to three groups for the study.
The first was a control group, which watched an assortment of television programmes. The second group was shown an episode of Jalan Sesama once a week. And the third group watched the show four times a week.
The children were all questioned on their skills, knowledge, and beliefs before the study and at the end of the 14 weeks.
Lead researcher Professor Borzekowski says the biggest improvements were seen in the group that received the highest exposure.
BORZEKOWSKI: What we saw was that watching Jalan Sesama above and beyond other programmes that they see had a significant impact on their scores for literacy, numeracy, for social development, cultural awareness, and for health and safety issues.
NITHI: Traffic safety was one of the issues the children were questioned on.
BORZEKOWSKI: Kids in Indonesia are at great risk from traffic issues, the majority of kids don't wear seat belts, they don't wear helmets when they're on motorcycles with their parents, and following exposure to the show, kids were much more aware about wearing helmets when riding on a motorcycle and they knew about the stripes for crosswalks, so those were nice outcomes.
NITHI: Dr Muhammad Zuhdi is the director of education, research and outreach for Jalan Sesama.
He explains why the show's grown to be popular.
ZUHDI: First of all, it's created for a young audience and we have very few shows targeted to a young audience. Secondly, we produce this programme based on Indonesian characters. We use Indonesian actors, Indonesian talents, the stories are written in Indonesia by Indonesians and the settings are all Indonesia. So it's close to the audience.
NITHI: This year saw the occasional appearance of the classic Sesame Street character, Elmo. But for the most part, the stars of Jalan Sesama are muppets tailored to an Indonesian audience - like Jabrik, a creative white rhinoceros, and Tantan, an environmentally conscious orangutan.
And then there are also characters like Agent 123, who teaches basic numbers, and Gatot Kata, who helps with words and pronunciation.
[Sound from scene from Jalan Sesama in Indonesian]
NITHI: In addition to the show's puppets are human characters like the storyteller, Pak Dalang, and Dr Susan.
Jalan Sesama continues to air in Indonesia, but there are concerns about access.
Dr Muhammad Zudhi says [the show's producers] are now working on an outreach programme, providing children in low access areas with educational material and toys.
ZUHDI: Our show is educative enough but we know that only limited children can watch. So we initiated this outreach programme to let more children learn with Jalan Sesama.
NITHI: While the study focused on Indonesia, several other countries, including India, Egypt, Tanzania and Brazil, have their own local versions of Sesame Street.
And the original American version is still broadcast around the world to an audience of millions of children.
Minggu, Agustus 23, 2009
Social Insurance
A few weeks ago, an insurance salesgirl came to visit me in the office. It was actually not I expected. Initially, someone from the company contacted me and asked my 30-minutes time to be interviewed. She told me that they were doing a market survey. I was reluctant to accept the request at the beginning, considering a lot of things were due. But after postponing it, I eventually accepted a representative to meet. However, the one who came, did not exactly doing a survey (although she did in the beginning of the interview), she mostly explained to me their new product and tried to convince me to join, and here come my points.
As any insurance sales will do, the representative explained about the risks that we are all facing: if we loose our job, if we suddenly pass-away, or if we have an accident that make us disable to work, etc. In short, they want us to be prepared to face all bad possibilities that we may encounter. And, by preparation means joining the insurance programs. There are a lot of insurance programs offered: wealth insurance, property insurance, health insurance, fire insurance, education insurance, and life insurance.
All these insurance programs are created to make the customers feel secured about their lives and families. However, considering the variety of programs that insurance companies offer, a customer may join more than one program. This means he/she has to pay monthly or annual premiums that most of the time not that cheap. Sometimes, this can cost him/her more than a half of the salary.
After patiently listened to what the representative had to say, I shared my thoughts with her. Some thoughts that suddenly came to my mind, and I effortlessly explained. I didn't know exactly where they came from, but let me share them with you.
So, I explained that I can understand the reasons why the insurance companies exist. I can see the potential benefits that customers, like me, can get. That is why I join some insurance programs. However, I don't want any insurance company to dictate my spending, although they offer reasonable considerations for that.
I believe that insurance alone will not help too much when we experience difficult times in our lives. The insurance companies concern only with the value of money and wealth, and modern people feel that these are very important in their lives. However, remember that every insurance program has terms and conditions that a customer have to carefully read and clearly understand. And the returns of what a customer invests in an insurance program sometimes does not come exactly at time when he/she needs. There is a certain bureaucratic process within the insurance company that we should be aware of. And, money is not everything we need when we experienced difficulties.
So, what do we need then? We all need good neighbors, caring-families, and beloved friends, and this is what I called social insurance. But how do we get that?
Last night, as a friend and I were on our way back home from Makasar, we took a taxi ride. The driver was talkative (but helpful to mentally escape from the traffic jam), and told many stories of his own life. He shared about how he spent his salary as a taxi driver and how to get higher income than his colleagues.
One of the interesting points that he shared was he feels blessed to have a lot of helpful friends when he needs supports. When his father passed-away, the company gave him some money to help his family, but his friends contributed more than what the company gave, and the contributions were not necessarily money.
Why were his friends so keen to help him? That's because he becomes friend to everybody. He chats and shares experiences with new as well as old friends, he asks questions if wants to know new things and answers even naive questions when asked, and he will be among the firsts to contribute when friends are in need. In short, he always maintain good relationship with everybody he knows. He may have some problems with some people, as all will do, but he takes the problems as part of life and think positively about them.
Having good friends, helpful neighbors, and caring families are very important when we are in needs. However, we will not have them unless we are nice, helpful and care with them. That's why the Prophet said: "Treat other people as you will like to be treated".
Good relationship with colleagues, friends and families is a long-term investment that one may not count. Because those who maintain good social relationship are doing so not for the shake of the returns, rather enjoying them as part of daily lives. We will never know when we need the return, but I strongly believe that if we have good social relationships with people we know we will always receive the returns whenever we need.
Remember, if we socially invest good deeds to those who need, don't ever expect them to return to what we have done. if we do that sincerely, we will receive the returns from people that may not expect. This reminds me to a film called "Pay It Forward": If some one helps you, pay it back to someone else who needs your help.
So, in addition to any financial-insurance program that we join, it is very important to join the social insurance program. The real social insurance is not about money that some people effortlessly receive from the government, rather maintaining good relationship with neighbors, friends, and families. Trust me, it costs us less than joining all the insurance programs that any company offers. Moreover, we could enjoy the program as we joining it.
Have a blessed Ramadhan.
As any insurance sales will do, the representative explained about the risks that we are all facing: if we loose our job, if we suddenly pass-away, or if we have an accident that make us disable to work, etc. In short, they want us to be prepared to face all bad possibilities that we may encounter. And, by preparation means joining the insurance programs. There are a lot of insurance programs offered: wealth insurance, property insurance, health insurance, fire insurance, education insurance, and life insurance.
All these insurance programs are created to make the customers feel secured about their lives and families. However, considering the variety of programs that insurance companies offer, a customer may join more than one program. This means he/she has to pay monthly or annual premiums that most of the time not that cheap. Sometimes, this can cost him/her more than a half of the salary.
After patiently listened to what the representative had to say, I shared my thoughts with her. Some thoughts that suddenly came to my mind, and I effortlessly explained. I didn't know exactly where they came from, but let me share them with you.
So, I explained that I can understand the reasons why the insurance companies exist. I can see the potential benefits that customers, like me, can get. That is why I join some insurance programs. However, I don't want any insurance company to dictate my spending, although they offer reasonable considerations for that.
I believe that insurance alone will not help too much when we experience difficult times in our lives. The insurance companies concern only with the value of money and wealth, and modern people feel that these are very important in their lives. However, remember that every insurance program has terms and conditions that a customer have to carefully read and clearly understand. And the returns of what a customer invests in an insurance program sometimes does not come exactly at time when he/she needs. There is a certain bureaucratic process within the insurance company that we should be aware of. And, money is not everything we need when we experienced difficulties.
So, what do we need then? We all need good neighbors, caring-families, and beloved friends, and this is what I called social insurance. But how do we get that?
Last night, as a friend and I were on our way back home from Makasar, we took a taxi ride. The driver was talkative (but helpful to mentally escape from the traffic jam), and told many stories of his own life. He shared about how he spent his salary as a taxi driver and how to get higher income than his colleagues.
One of the interesting points that he shared was he feels blessed to have a lot of helpful friends when he needs supports. When his father passed-away, the company gave him some money to help his family, but his friends contributed more than what the company gave, and the contributions were not necessarily money.
Why were his friends so keen to help him? That's because he becomes friend to everybody. He chats and shares experiences with new as well as old friends, he asks questions if wants to know new things and answers even naive questions when asked, and he will be among the firsts to contribute when friends are in need. In short, he always maintain good relationship with everybody he knows. He may have some problems with some people, as all will do, but he takes the problems as part of life and think positively about them.
Having good friends, helpful neighbors, and caring families are very important when we are in needs. However, we will not have them unless we are nice, helpful and care with them. That's why the Prophet said: "Treat other people as you will like to be treated".
Good relationship with colleagues, friends and families is a long-term investment that one may not count. Because those who maintain good social relationship are doing so not for the shake of the returns, rather enjoying them as part of daily lives. We will never know when we need the return, but I strongly believe that if we have good social relationships with people we know we will always receive the returns whenever we need.
Remember, if we socially invest good deeds to those who need, don't ever expect them to return to what we have done. if we do that sincerely, we will receive the returns from people that may not expect. This reminds me to a film called "Pay It Forward": If some one helps you, pay it back to someone else who needs your help.
So, in addition to any financial-insurance program that we join, it is very important to join the social insurance program. The real social insurance is not about money that some people effortlessly receive from the government, rather maintaining good relationship with neighbors, friends, and families. Trust me, it costs us less than joining all the insurance programs that any company offers. Moreover, we could enjoy the program as we joining it.
Have a blessed Ramadhan.
Kamis, Juni 18, 2009
Cerita Kolam
from Zafar Marlianto
reply-to syiarmontreal@yahoogroups.com
to
date Wed, Jun 17, 2009 at 10:01 AM
subject [syiarmontreal] FW: Cerita Kolam & 4 Pemuda
-----------------------------------------------------------------------
Disuatu pagi hari sekitar jam 06.00, ketika ekonomi di Negeri kita,, masih juga terasa sulit,ditepian suatu kolam yg cukup luas,,ada 4(empat) org pemuda sedang merenungi nasibnya karena tdk mempunyai pekerjaan...
Tiba tiba datang seseorang yg menamakan dirinya sbg Utusan Tuhan,menawarkan pekerjaan untk mengeringkan kolam tsb,yang harus diselesaikan pd jam 18.00 dan masing2 akan mendapatkan upah Rp.250.000.. ke 4 org tersebut merasa gembira dan langsung bekerja dgn giat.
Utusan Tuhan terus mengawasi pekerjaaan ternyata merasa perlu menambah tenaga,maka jam 12.00 menugaskan 4 (empat) pemuda lainnya untk membantu mengeringkan kolam yg sama..dan jam 15.00 datang lagi 4(empat) pemuda yg berbeda ditugaskan pula membantu menyelesaikan pekerjaan pengeringan kolam tsb.TEPAT jam 18.00 kolam telah selesai dikeringkan dan sesuai janji,setiap pemuda yg bekerja menerima upah yang sama,yakni Rp.250.000Tiba tiba,,rombongan pemuda yg pertama protes, karena merasa tidak adil,mereka yg bekerja dr pagi disamakan dgn yg memulai siang hari bahkan dengan yg bekerja hanya 3 (tiga) jam pun,menerima upah yg sama....UTUSAN TUHAN tsb tersenyum seraya berkata "Bukankah tadi kita sudah sama2 sepakat dgn upah tersebut?".. .ke 4 rombongan pemuda pertama tersebut menjawab serentak...: Tetapi..!!.. .
"Utusan Tuhan tadi melanjutkan dgn tersenyum ;" Masalahnya bukan adil atau tidak adil,,masalah yg sesungguhnya adalah kalian hanya,, iri hati,,Apabila kalian tdk dibantu oleh 8 (delapan) pemuda tadi,pekerjaan kalian tidak akan selesai pada waktunya dan belum tentu kalian akan menerima upah..!!"Oleh karenanya janganlah kita senang menghitung hitung rezeki orang lain,namun "Bersyukurlah" dengan apa yg kita peroleh,, niscaya akan terasa, betapa indah hidup ini..Jauhi sifat Iri dan dengki, Insya Allah hidup akan damai tanpa musuh atau dendam dihati.
reply-to syiarmontreal@yahoogroups.com
to
date Wed, Jun 17, 2009 at 10:01 AM
subject [syiarmontreal] FW: Cerita Kolam & 4 Pemuda
-----------------------------------------------------------------------
Disuatu pagi hari sekitar jam 06.00, ketika ekonomi di Negeri kita,, masih juga terasa sulit,ditepian suatu kolam yg cukup luas,,ada 4(empat) org pemuda sedang merenungi nasibnya karena tdk mempunyai pekerjaan...
Tiba tiba datang seseorang yg menamakan dirinya sbg Utusan Tuhan,menawarkan pekerjaan untk mengeringkan kolam tsb,yang harus diselesaikan pd jam 18.00 dan masing2 akan mendapatkan upah Rp.250.000.. ke 4 org tersebut merasa gembira dan langsung bekerja dgn giat.
Utusan Tuhan terus mengawasi pekerjaaan ternyata merasa perlu menambah tenaga,maka jam 12.00 menugaskan 4 (empat) pemuda lainnya untk membantu mengeringkan kolam yg sama..dan jam 15.00 datang lagi 4(empat) pemuda yg berbeda ditugaskan pula membantu menyelesaikan pekerjaan pengeringan kolam tsb.TEPAT jam 18.00 kolam telah selesai dikeringkan dan sesuai janji,setiap pemuda yg bekerja menerima upah yang sama,yakni Rp.250.000Tiba tiba,,rombongan pemuda yg pertama protes, karena merasa tidak adil,mereka yg bekerja dr pagi disamakan dgn yg memulai siang hari bahkan dengan yg bekerja hanya 3 (tiga) jam pun,menerima upah yg sama....UTUSAN TUHAN tsb tersenyum seraya berkata "Bukankah tadi kita sudah sama2 sepakat dgn upah tersebut?".. .ke 4 rombongan pemuda pertama tersebut menjawab serentak...: Tetapi..!!.. .
"Utusan Tuhan tadi melanjutkan dgn tersenyum ;" Masalahnya bukan adil atau tidak adil,,masalah yg sesungguhnya adalah kalian hanya,, iri hati,,Apabila kalian tdk dibantu oleh 8 (delapan) pemuda tadi,pekerjaan kalian tidak akan selesai pada waktunya dan belum tentu kalian akan menerima upah..!!"Oleh karenanya janganlah kita senang menghitung hitung rezeki orang lain,namun "Bersyukurlah" dengan apa yg kita peroleh,, niscaya akan terasa, betapa indah hidup ini..Jauhi sifat Iri dan dengki, Insya Allah hidup akan damai tanpa musuh atau dendam dihati.
Selasa, Juni 09, 2009
Komersialisasi Pendidikan
Pengaruh globalisasi tak terelakkan lagi masuk ke dunia pendidikan. Salah satu efeknya adalah merubah orientasi lembaga-lembaga pendidikan menjadi economic driven institution. Bagaimana tidak, semua orangtua ingin anak mereka memperoleh pendidikan yang baik, sehingga kelak memperolehh pekerjaan yang layak, berpenghasilan memadai, dan tidak menjadi benalu bagi orang lain. Untuk itu, sekolah harus dilengkapi dengan fasilitas yang baik dan gaji pendidik yang layak.
Tentu pemerintah, selaku pihak yang memiliki tanggung jawab utama dalam dunia pendidikan, tidak mampu menyediakan semuanya secara instan. Karena bagaimanapun pemerintah memiliki keterbatasan dana, dan dana yang terbatas itu pun bukan hanya untuk pendidikan. Sementara tuntutan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan terus meningkat. Banyak orangtua yang bersedia membayar lebih demi kepentingan pendidikan anak-anaknya. Walhasil, terbukalah peluang bagi orang-orang yang memiliki modal yang cukup untuk melakukan "investasi" di bidang pendidikan.
Dalam sejarahnya, semangat pendidikan kolektif dilakukan oleh gerakan-gerakan keagamaan, seperti masjid dan gereja untuk memastikan pelestarian nilai-nilai moral dan praktek beragama dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, ketika itu semangat yang melandasi pendidikan pun adalah semangat dakwah atau mission. Para pemrakarsa dan pelaku jauh dari keinginan untuk memperoleh keuntungan materi. Oleh karenanya, hubungan antara guru dan murid menjadi sangat personal dan terkadang bersifat spiritual.
Perubahan tatanan kehidupan masyarakat dunia dewasa ini nampak memiliki pengaruh besar ke dalam dunia pendidikan. Keberhasilan industrialisasi menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat secara global. Faktor ekonomi menjadi salah satu indikator penting (jika bukan yang paling penting) kemakmuran dan kesejahteraan hidup individu, masyarakat, bahkan negara. Karenanya, keberhasilan di bidang ekonomi menjadi target pencapaian keberhasilan banyak pihak.
Ketika dunia pendidikan berkembang sedemikian rupa dewasa ini, ia berada di tengah-tengah masyarakat yang menjadikan ekonomi sebagai indikator keberhasilan dan kesuksesan. Karenanya, banyak orang yang menganggap pendidikan sebagai sebuah investasi, dan ketika bicara investasi, maka seringkali, sekali lagi seringkali, yang diharapkan adalah economic return atau keuntungan finansial di masa depan. Artinya, ketika para orangtua berinvestasi untuk pendidikan anak-anaknya, maka ia berharap suatu saat nanti anak-anaknya itu akan menjadi orang-orang yang memiliki kemandirian dalam hal finansial.
Pola pikir yang tak jauh berbeda, mungkin juga menghinggapi orang-orang yang berinvestasi di dunia pendidikan. Menyadari bahwa pemerintah tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan kualitas pendidikan yang kian meningkat, sementara demand terhadap hal itu kian tinggi, maka investasi di dunia pendidikan adalah hal yang menjanjikan keuntungan. Dengan menyediakan fasilitas yang memadai dan guru-guru berkualitas dengan gaji yang pantas, banyak orang yang menanamkan modalnya untuk membuat sekolah-sekolah yang lengkap. Dengan tidak bermaksud meng-generalisir, sebagian pemilik modal berharap mereka akan memperoleh keuntungan finansial yang besar melalui penyelenggaraan pendidikan itu.
Gayung pun bersambut, orangtua senang dengan kehadiran sekolah-sekolah yang lengkap dan bersedia membayar mahal demi pendidikan anak-anak mereka. Di sekolah-sekolah itu, anak-anak dikenalkan dengan hak-hak mereka terhadap guru dan sekolah. Para guru pun harus melayani siswa-siswi mereka dengan baik, sambil berupaya mengantarkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Sayangnya, di sebagian sekolah semacam itu, hubungan guru-murid maupun orangtua murid-guru sering terbatas pada hubungan service provider-customer. Sering terjadi siswa tidak lagi memiliki rasa hormat kepada guru, karena mereka datang naik mobil pribadi sementara sang guru naik angkot. Orangtua siswa terkadang juga kehilangan respek terhadap pendidik anak-anak mereka karena mereka merasa telah membayar. So, yang dilakukan guru itu memang sudah seharusnya, karena mereka dibayar untuk itu. Akibatnya, hubungan spiritual dan emosional antara guru dan siswa menjadi berkurang, karena kegiatan pendidikan sudah tereduksi menjadi sebuah transaksi ekonomi.
Ini terjadi dan akan terus terjadi jika liberalisasi di dunia pendidikan dibiarkan terus berlangsung. Pendidikan akan kehilangan ruhnya dan nilai-nilai humanisme dalam pendidikan akan kehilangan pegangannya.
Karena itu, perlu diingatkan bahwa pendidikan bukan semata-mata sebuah kegiatan jasa yang beorientasi pada keuntungan materi. Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi yang utuh yang mesti memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia agar seimbang dan utuh. Komersialisasi pendidikan dalam jangka panjang hanya akan membawa kerugian bagi kemanusiaan.
Tentu pemerintah, selaku pihak yang memiliki tanggung jawab utama dalam dunia pendidikan, tidak mampu menyediakan semuanya secara instan. Karena bagaimanapun pemerintah memiliki keterbatasan dana, dan dana yang terbatas itu pun bukan hanya untuk pendidikan. Sementara tuntutan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan terus meningkat. Banyak orangtua yang bersedia membayar lebih demi kepentingan pendidikan anak-anaknya. Walhasil, terbukalah peluang bagi orang-orang yang memiliki modal yang cukup untuk melakukan "investasi" di bidang pendidikan.
Dalam sejarahnya, semangat pendidikan kolektif dilakukan oleh gerakan-gerakan keagamaan, seperti masjid dan gereja untuk memastikan pelestarian nilai-nilai moral dan praktek beragama dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, ketika itu semangat yang melandasi pendidikan pun adalah semangat dakwah atau mission. Para pemrakarsa dan pelaku jauh dari keinginan untuk memperoleh keuntungan materi. Oleh karenanya, hubungan antara guru dan murid menjadi sangat personal dan terkadang bersifat spiritual.
Perubahan tatanan kehidupan masyarakat dunia dewasa ini nampak memiliki pengaruh besar ke dalam dunia pendidikan. Keberhasilan industrialisasi menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat secara global. Faktor ekonomi menjadi salah satu indikator penting (jika bukan yang paling penting) kemakmuran dan kesejahteraan hidup individu, masyarakat, bahkan negara. Karenanya, keberhasilan di bidang ekonomi menjadi target pencapaian keberhasilan banyak pihak.
Ketika dunia pendidikan berkembang sedemikian rupa dewasa ini, ia berada di tengah-tengah masyarakat yang menjadikan ekonomi sebagai indikator keberhasilan dan kesuksesan. Karenanya, banyak orang yang menganggap pendidikan sebagai sebuah investasi, dan ketika bicara investasi, maka seringkali, sekali lagi seringkali, yang diharapkan adalah economic return atau keuntungan finansial di masa depan. Artinya, ketika para orangtua berinvestasi untuk pendidikan anak-anaknya, maka ia berharap suatu saat nanti anak-anaknya itu akan menjadi orang-orang yang memiliki kemandirian dalam hal finansial.
Pola pikir yang tak jauh berbeda, mungkin juga menghinggapi orang-orang yang berinvestasi di dunia pendidikan. Menyadari bahwa pemerintah tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan kualitas pendidikan yang kian meningkat, sementara demand terhadap hal itu kian tinggi, maka investasi di dunia pendidikan adalah hal yang menjanjikan keuntungan. Dengan menyediakan fasilitas yang memadai dan guru-guru berkualitas dengan gaji yang pantas, banyak orang yang menanamkan modalnya untuk membuat sekolah-sekolah yang lengkap. Dengan tidak bermaksud meng-generalisir, sebagian pemilik modal berharap mereka akan memperoleh keuntungan finansial yang besar melalui penyelenggaraan pendidikan itu.
Gayung pun bersambut, orangtua senang dengan kehadiran sekolah-sekolah yang lengkap dan bersedia membayar mahal demi pendidikan anak-anak mereka. Di sekolah-sekolah itu, anak-anak dikenalkan dengan hak-hak mereka terhadap guru dan sekolah. Para guru pun harus melayani siswa-siswi mereka dengan baik, sambil berupaya mengantarkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Sayangnya, di sebagian sekolah semacam itu, hubungan guru-murid maupun orangtua murid-guru sering terbatas pada hubungan service provider-customer. Sering terjadi siswa tidak lagi memiliki rasa hormat kepada guru, karena mereka datang naik mobil pribadi sementara sang guru naik angkot. Orangtua siswa terkadang juga kehilangan respek terhadap pendidik anak-anak mereka karena mereka merasa telah membayar. So, yang dilakukan guru itu memang sudah seharusnya, karena mereka dibayar untuk itu. Akibatnya, hubungan spiritual dan emosional antara guru dan siswa menjadi berkurang, karena kegiatan pendidikan sudah tereduksi menjadi sebuah transaksi ekonomi.
Ini terjadi dan akan terus terjadi jika liberalisasi di dunia pendidikan dibiarkan terus berlangsung. Pendidikan akan kehilangan ruhnya dan nilai-nilai humanisme dalam pendidikan akan kehilangan pegangannya.
Karena itu, perlu diingatkan bahwa pendidikan bukan semata-mata sebuah kegiatan jasa yang beorientasi pada keuntungan materi. Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi yang utuh yang mesti memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia agar seimbang dan utuh. Komersialisasi pendidikan dalam jangka panjang hanya akan membawa kerugian bagi kemanusiaan.
Senin, Mei 25, 2009
Mencintai Tanpa Syarat
Cerita ini sudah tersebar luas di internet. Tapi ngga salah kalau saya juga ingin ikut menyimpannya. Katanya sih Based on True Story.
***
Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usia yang sudah senja bahkan mungkin sudah mendekati malam. Pak Suyatno, 58 tahun, mengisi kesehariannya dengan merawat istrinya, juga sudah tua, yang sakit. Sudah lebih 32 tahun mereka menikah.
Mereka dikaruniai 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa. Setelah istrinya melahirkan anak ke empat mereka, tiba - tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama lebih kurang 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga keadaan bertambah parah, seluruh tubuhnya menjadi lemah, terasa tidak bertulang. Bahkan, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Ia tak lagi bisa berkomunikasi verbal dengan suaminya.
Tetapi sang suami tak pernah menyerah, bahkan untuk mengeluh. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, ia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi Pak Suyanto selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga ia bisa pulang di siang hari untuk menyuapi istrinya makan siang. Sore hari, sepulang kerja, ia memandikan istrinya, mengganti pakaian. Lalu selepas maghrib ia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan pengalamannya hari itu.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa mampu menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang. Ia bahkan selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini telah dijalani Pak Suyatno selama lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Sekarang anak - anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Suatu hari, keempat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing - masing, sementara Pak Suyatno memutuskan untuk tetap merawat ibu mereka. Hanya satu yang diinginkannya: Anak-anaknya menjadi orang-orang yang berhasil.
Di saat pertemuan itu, anak-anak memiliki permintaan pada Pak Suyanto. Dengan kalimat yang disusun dengan hati - hati, anak yang sulung berkata:
"Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kecil, kami melihat bapak merawat ibu. Tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... bahkan hingga kini Bapak tidak mengizinkan kami untuk menjaga ibu".
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata - katanya, "Pak, sudah yang keempat kalinya kami menyampaikan bahwa kami tidak keberatan Bapak menikah lagi. Kami rasa, ibupun akan mengizinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini? kami tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian".
Mendengar permintaan anak-anaknya itu, Pak Suyatno memberikan jawaban yang sama sekali tidak diduga oleh anak - anak mereka:
"Anak – anakku... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi... tapi ketahuilah, kehadiran kalian disampingku sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian... (sejenak kerongkongannya tersekat)... Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta. Tidak satu orang pun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia dengan menikah lagi. Apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?"
Sejenak meledaklah tangis anak - anak pak Suyatno. Merekapun melihat butiran – butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno... dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa – apa.
Di saat itu meledak tangis beliau. Tamu yang hadir di studio, yang kebanyakan kaum perempuan, pun tidak sanggup menahan haru. Di situlah Pak Suyatno berbagi
"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat, dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu – lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama... dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit..."
***
Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usia yang sudah senja bahkan mungkin sudah mendekati malam. Pak Suyatno, 58 tahun, mengisi kesehariannya dengan merawat istrinya, juga sudah tua, yang sakit. Sudah lebih 32 tahun mereka menikah.
Mereka dikaruniai 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa. Setelah istrinya melahirkan anak ke empat mereka, tiba - tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama lebih kurang 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga keadaan bertambah parah, seluruh tubuhnya menjadi lemah, terasa tidak bertulang. Bahkan, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Ia tak lagi bisa berkomunikasi verbal dengan suaminya.
Tetapi sang suami tak pernah menyerah, bahkan untuk mengeluh. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, ia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi Pak Suyanto selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga ia bisa pulang di siang hari untuk menyuapi istrinya makan siang. Sore hari, sepulang kerja, ia memandikan istrinya, mengganti pakaian. Lalu selepas maghrib ia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan pengalamannya hari itu.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa mampu menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang. Ia bahkan selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini telah dijalani Pak Suyatno selama lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Sekarang anak - anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Suatu hari, keempat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing - masing, sementara Pak Suyatno memutuskan untuk tetap merawat ibu mereka. Hanya satu yang diinginkannya: Anak-anaknya menjadi orang-orang yang berhasil.
Di saat pertemuan itu, anak-anak memiliki permintaan pada Pak Suyanto. Dengan kalimat yang disusun dengan hati - hati, anak yang sulung berkata:
"Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kecil, kami melihat bapak merawat ibu. Tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... bahkan hingga kini Bapak tidak mengizinkan kami untuk menjaga ibu".
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata - katanya, "Pak, sudah yang keempat kalinya kami menyampaikan bahwa kami tidak keberatan Bapak menikah lagi. Kami rasa, ibupun akan mengizinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini? kami tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian".
Mendengar permintaan anak-anaknya itu, Pak Suyatno memberikan jawaban yang sama sekali tidak diduga oleh anak - anak mereka:
"Anak – anakku... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi... tapi ketahuilah, kehadiran kalian disampingku sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian... (sejenak kerongkongannya tersekat)... Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta. Tidak satu orang pun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia dengan menikah lagi. Apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?"
Sejenak meledaklah tangis anak - anak pak Suyatno. Merekapun melihat butiran – butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno... dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa – apa.
Di saat itu meledak tangis beliau. Tamu yang hadir di studio, yang kebanyakan kaum perempuan, pun tidak sanggup menahan haru. Di situlah Pak Suyatno berbagi
"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat, dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu – lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama... dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit..."
Senin, Mei 11, 2009
Perbedaan dan Sikap Inklusif
Dalam beberapa bulan ini, saya dan teman-teman sedang mendiskusikan sebuah tema yang akan diusung untuk acuan sebuah tayangan. Tema yang dimaksud adalah inclusiveness. Terus terang saya tidak bisa menemukaan padanan kata yang pas dan nyaman didengar dalam bahasa Indonesia, ada yang menyebut ketermasukan, kesertaan, dan keterlibatan. Tetapi kok belum begitu pas ya. Karenanya tema itu dibiarkan dalam bahasa aslinya.
Kami berpikir ada hal yang lebih penting ketimbang penerjemahan kata tersebut, yaitu alasan mengapa isu itu dipilih untuk dimunculkan.
Kita sadari betul bahwa manusia diciptakan dengan segala perbedaan. Perbedaan tersebut menyebabkan manusia terperangkap dalam identitas diri mereka. Identitas memang penting ketika ia dimaksudkan untuk menandakan individu atau kelompok satu dari kelompok lainnya, sehingga masing-masing dapat berinteraksi dengan yang lainnya secara sejajar (equal). Tetapi, identitas menjadi kendala dan bahkan perusak ketika sekelompok atau sesorang dengan identitas tertentu mulai menganggap identitas lain lebih rendah.
Berbagai identitas ataupun label yang melekat pada diri manusia (baik secara kelompok maupun individu) sering berfungsi sebagai (meminjam istilah intan) dinding yang menghalanginya untuk berinteraksi dengan individu atau kelompok lain. Akibatnya, berbagai label dan identitas yang dimiliki manusia bukan lagi berfungsi sebagai alat pengenal diri atau kelompok, tetapi lebih sebagai alat untuk menghindarkan diri dari (atau "menghukum") kelompok atau identitas lain. Dari sinilah muncul istilah exclusiveness, yaitu sikap membatasi keterlibatan atau akses individu atau kelompok terhadap keanggotaan atau kegiatan tertentu. Dengan kata lain, orang yang eksklusif cenderung menutup diri dari orang atau kelompok lain. Akibatnya kelompok lain (yang tidak dilibatkan atau diberikan akses) merasa terabaikan dan tidak dihargai.
Pada prakteknya, kita menemukan banyak potensi yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang di-exclude atau diperlakukan secara tidak adil. Potensi itu ada pada perbedaan jender, ras, agama, kelompok sosial, organisasi, pendapat, kesempurnaan fisik, usia, status dan lain-lain.
Sikap eksklusif, seperti disebutkan di atas, sebenarnya bukanlah tidak mengakui perbedaan. Justru sikap itu hadir karena kesadaran akan adanya perbedaan. Namun kesadaran akan perbedaan tersebut diejawantahkan dengan perilaku yang tidak menghargai. Tentu saja perilaku semacam itu sangat menganggu hubungan sosial, dan cenderung memiliki implikasi yang luas. Oleh sebab itu, perbedaan bukan hanya perlu dikenali atau dipahami, tetapi juga harus disikapi secara positif dengan cara saling menghargai (respect).
Sikap saling menghargai terhadap perbedaan meniscayakan pandangan awal bahwa setiap individu atau kelompok memiliki hak yang sama. Sikap ini dengan sendirinya menuntut keterbukaan dan kesiapan dari individu maupun kelompok untuk menerima kehadiran dan menghargai perbedaan individu atau kelompok lain. Bahkan lebih dari itu, masing-masing individu atau kelompok, pada gilirannya, dapat mengambil hal-hal positif dari individu atau kelompok lain. Bukankah ada kita diingatkan, "janganlah kau menghina orang lain, karena boleh jadi ia justru lebih baik dari kamu."
Sikap menerima, menghargai dan belajar dari perbedaan merupakan modal awal bagi terbentuknya individu dan masyarakat yang inklusif. Yaitu individu atau masyarakat yang senantiasa bersikap obyektif dan rasional dalam berinteraksi dengan individu atau kelompok lain. Hal ini tentu akan menjauhkan individu atau kelompok dari sikap perjudice yang cenderung memecah dan menyepelekan pihak lain.
Sikap inklusif ini sangat penting ketika kita menyadari bahwa dunia terdiri dari manusia dengan beragam identitas. Berbagai konflik dan peperangan terjadi karena masing-masing pemilik identitas mementingkan pihaknya dengan mengabaikan, bahkan mengorbankan, identitas pihak lain.
Bagi masyarakat yang multi identitas, seperti Indonesia, sikap inklusif ini menjadi kebutuhan yang tak terelakkan jika ingin terciptanya masyarakat yang hidup berdampingan secara damai dan berinteraksi secara positif.
Penyadaran akan sikap inklusif ini penting untuk diberikan sejak sedini mungkin melalui berbagai media pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Karena cepat atau lambat, anak-anak akan mengenal dan dikenalkan dengan identitas diri dan kelompok mereka. Di saat itulah penanaman sikap inklusif ini menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan.
Ketika anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka: keluarga, tetangga, teman, guru, sanak-saudara, dan orang yang baru dikenal, mereka akan segera mengidentifikasi diri mereka dan orang yang dihadapinya. Hasil identifikasi ini yang kemudian akan memunculkan sikap menerima atau menolak orang atau kelompok lain.
Pada kasus-kasus tertentu, penerimaan atau penolakan ini didasarkan pada prejudice atau pandangan remeh terhadap pihak yang ditolak. Akibatnya, hubungan antara pihak yang menolak dan yang ditolak menjadi tidak harmonis. Lalu lahirlah konflik baik secara terbuka maupun tidak. Sayangnya, konflik seperti ini akan berlarut-larut dan tak akan terpecahkan hingga akar persoalannya terselesaikan.
Atas dasar itulah, antara lain, penanaman nilai-nilai inklusif menjadi penting. Tentu saja penanaman sikap inklusif tidak dimaksudkan untuk mengaburkan identitas, menghilangkan kewaspadaan atau menisbikan kebenaran. Di sana tentu ada nilai-nilai yang penting untuk diwariskan dan dipertahankan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, rasionalitas dan obyektivitas dalam menyikapi perbedaan menjadi modal penting bagi munculnya sikap inklusif itu.
Kami berpikir ada hal yang lebih penting ketimbang penerjemahan kata tersebut, yaitu alasan mengapa isu itu dipilih untuk dimunculkan.
Kita sadari betul bahwa manusia diciptakan dengan segala perbedaan. Perbedaan tersebut menyebabkan manusia terperangkap dalam identitas diri mereka. Identitas memang penting ketika ia dimaksudkan untuk menandakan individu atau kelompok satu dari kelompok lainnya, sehingga masing-masing dapat berinteraksi dengan yang lainnya secara sejajar (equal). Tetapi, identitas menjadi kendala dan bahkan perusak ketika sekelompok atau sesorang dengan identitas tertentu mulai menganggap identitas lain lebih rendah.
Berbagai identitas ataupun label yang melekat pada diri manusia (baik secara kelompok maupun individu) sering berfungsi sebagai (meminjam istilah intan) dinding yang menghalanginya untuk berinteraksi dengan individu atau kelompok lain. Akibatnya, berbagai label dan identitas yang dimiliki manusia bukan lagi berfungsi sebagai alat pengenal diri atau kelompok, tetapi lebih sebagai alat untuk menghindarkan diri dari (atau "menghukum") kelompok atau identitas lain. Dari sinilah muncul istilah exclusiveness, yaitu sikap membatasi keterlibatan atau akses individu atau kelompok terhadap keanggotaan atau kegiatan tertentu. Dengan kata lain, orang yang eksklusif cenderung menutup diri dari orang atau kelompok lain. Akibatnya kelompok lain (yang tidak dilibatkan atau diberikan akses) merasa terabaikan dan tidak dihargai.
Pada prakteknya, kita menemukan banyak potensi yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang di-exclude atau diperlakukan secara tidak adil. Potensi itu ada pada perbedaan jender, ras, agama, kelompok sosial, organisasi, pendapat, kesempurnaan fisik, usia, status dan lain-lain.
Sikap eksklusif, seperti disebutkan di atas, sebenarnya bukanlah tidak mengakui perbedaan. Justru sikap itu hadir karena kesadaran akan adanya perbedaan. Namun kesadaran akan perbedaan tersebut diejawantahkan dengan perilaku yang tidak menghargai. Tentu saja perilaku semacam itu sangat menganggu hubungan sosial, dan cenderung memiliki implikasi yang luas. Oleh sebab itu, perbedaan bukan hanya perlu dikenali atau dipahami, tetapi juga harus disikapi secara positif dengan cara saling menghargai (respect).
Sikap saling menghargai terhadap perbedaan meniscayakan pandangan awal bahwa setiap individu atau kelompok memiliki hak yang sama. Sikap ini dengan sendirinya menuntut keterbukaan dan kesiapan dari individu maupun kelompok untuk menerima kehadiran dan menghargai perbedaan individu atau kelompok lain. Bahkan lebih dari itu, masing-masing individu atau kelompok, pada gilirannya, dapat mengambil hal-hal positif dari individu atau kelompok lain. Bukankah ada kita diingatkan, "janganlah kau menghina orang lain, karena boleh jadi ia justru lebih baik dari kamu."
Sikap menerima, menghargai dan belajar dari perbedaan merupakan modal awal bagi terbentuknya individu dan masyarakat yang inklusif. Yaitu individu atau masyarakat yang senantiasa bersikap obyektif dan rasional dalam berinteraksi dengan individu atau kelompok lain. Hal ini tentu akan menjauhkan individu atau kelompok dari sikap perjudice yang cenderung memecah dan menyepelekan pihak lain.
Sikap inklusif ini sangat penting ketika kita menyadari bahwa dunia terdiri dari manusia dengan beragam identitas. Berbagai konflik dan peperangan terjadi karena masing-masing pemilik identitas mementingkan pihaknya dengan mengabaikan, bahkan mengorbankan, identitas pihak lain.
Bagi masyarakat yang multi identitas, seperti Indonesia, sikap inklusif ini menjadi kebutuhan yang tak terelakkan jika ingin terciptanya masyarakat yang hidup berdampingan secara damai dan berinteraksi secara positif.
Penyadaran akan sikap inklusif ini penting untuk diberikan sejak sedini mungkin melalui berbagai media pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Karena cepat atau lambat, anak-anak akan mengenal dan dikenalkan dengan identitas diri dan kelompok mereka. Di saat itulah penanaman sikap inklusif ini menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan.
Ketika anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka: keluarga, tetangga, teman, guru, sanak-saudara, dan orang yang baru dikenal, mereka akan segera mengidentifikasi diri mereka dan orang yang dihadapinya. Hasil identifikasi ini yang kemudian akan memunculkan sikap menerima atau menolak orang atau kelompok lain.
Pada kasus-kasus tertentu, penerimaan atau penolakan ini didasarkan pada prejudice atau pandangan remeh terhadap pihak yang ditolak. Akibatnya, hubungan antara pihak yang menolak dan yang ditolak menjadi tidak harmonis. Lalu lahirlah konflik baik secara terbuka maupun tidak. Sayangnya, konflik seperti ini akan berlarut-larut dan tak akan terpecahkan hingga akar persoalannya terselesaikan.
Atas dasar itulah, antara lain, penanaman nilai-nilai inklusif menjadi penting. Tentu saja penanaman sikap inklusif tidak dimaksudkan untuk mengaburkan identitas, menghilangkan kewaspadaan atau menisbikan kebenaran. Di sana tentu ada nilai-nilai yang penting untuk diwariskan dan dipertahankan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, rasionalitas dan obyektivitas dalam menyikapi perbedaan menjadi modal penting bagi munculnya sikap inklusif itu.
Langganan:
Postingan (Atom)